Tampilkan postingan dengan label Doa Untuk Anda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa Untuk Anda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Maret 2010

Joice, temukan sukacita ketika bertobat

Akibat kesibukan ayahnya, Joice nekat mencari kasih sayang dari teman sebayanya sampai ke pria dewasa. Kesuciannya dipertaruhkan.

"Waktu kami melakukannya itu ya itu kami ketakutan setengah mati karena ada darah yang keluar. Dia berjanji sampai mencium tangan saya, ‘Kalau terjadi apa-apa dengan kamu, saya akan bertanggung jawab'...Disitu saya menangis, ‘Aduh ini bahaya sekali. Aduh gimana ya kalau mereka tahu saya gak perawan lagi, gak suci lagi?' Karena selalu papa sering nasehatin saya, ‘Joice, kamu ini seperti porselen. Itu yang harus kamu jaga. Jika porselen itu gompal sedikit aja, nilainya itu sudah jatuh'"

Dalam usia yang sangat belia, Joice harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya sudah berbadan dua. Lamaran sang pria untuk menikahinya ditolak oleh orangtuanya. Joice pun harus berhadapan dengan sang ibu yang sangat ditakutinya.

"Saya ditempeleng, saya dijambak. ‘gak bisa..pokoknya kamu harus keluarkan'"

Untuk menutupi aib keluarga, Joice pun dibawa ke suatu tempat. Disanalah orangtuanya melakukan perbuatan gila terhadap Joice.

"Waktu saya mau dibawa ke tempat itu, saya gak tahu sama sekali. Saya pikir hanya periksa ya ternyata langsung saya diikat. Kemudian tanpa dibius, saya kalau dulu dibilang kuret. Disitulah mulai rusak jiwa saya"

"Saya ini istilah kata udah gompal ya, 'Aduh, gimana nanti kalau saya jatuh cinta lagi kemudian akhirnya kami bisa sampai melanjutkan ke jenjang pernikahan. Bagaimana saya sudah tidak suci lagi' itu Sering..sering itu terus di pemikiran saya"

Luka di hati Joice semakin dalam ketika dia harus menerima perlakuan keras dari ibunya.

"Hubungan saya dengan ibu itu seperti anjing dan kucing ya, tidak pernah ada rasa keakraban sama sekali. Suatu hari, ibu saya kalah berjudi. Akhirnya dia kesal, dia marah, dia ke belakang mau pukul saya. Saya lari...kemudian dia suruh kakak saya tangkap saya..akhirnya dia pukul saya disini (Joice menunjuk wajahnya sebelah kiri, pen) sampai saya bengkak. Tidak pernah saya merasakan kasih seorang ibu,"

Kebencian terhadap ibunya terus bertumbuh sampai Joice beranjak remaja, rencana jahat siap ia lakukan.

"Terbesit di pikiran saya itu kalau ngeliat dia sedang tidur atau marah-marah apa..Apa gw bekep atau gw tusuk nih"

Niat jahatnya tidak sampai ia lakukan. Joice pun kembali menjalin cinta dengan seorang pria dan mengulangi kesalahan yang sama.

"Kembali lagi saya jatuh lagi ke dalam dosa. Akhirnya saya hamil lagi kemudian akhirnya kami menikah. Ayah saya mengizinkan, mama saya yang tidak mengizinkan"

Indahnya pernikahan tidaklah seperti ia harapkan. Pupus sudah harapannya untuk bisa bahagia ketika Joice mengetahui kebusukan suaminya.

"Kalau suami saya bilang itu rapat, pergi rapat. Akhirnya setelah di ujung-ujungnyanya, belakangannya saya tahu badai tidak pergi rapat. Dia banyak sekali perempuan-perempuan di luar sana selain saya istrinya. Langsung saya emosi, saya ngamuk, saya pukulin dia, saya cakar dia...‘Pergi sama siapa kamu?' akhirnya dia ngaku pergi sama perempuan-perempuan itu"

Sakitnya dikhianati membuat Joice siap melakukan perbuatan nekat.

"Setelah saya tahu diselingkuhi, saya jadi kecewa lagi, saya jadi sakit hati kemudian saya marah. Jalan satu-satunya udahlah saya bunuh diri saja. Saya pikir tadinya dengan adanya suami ini saya bisa mendapatkan apa yang pernah hilang dari kehidupan saya"

Joice lolos dari maut, suaminya pun tetap tidak berubah. Keadaan rumah tangganya yang kacau balau membuat Joice berkencan dengan banyak pria.

"Saya sudah tidak lihat lagi, pandang bulu lagi, apa dia tua, jelek, cakep, apa muda, yang penting saya bisa melampiaskan sakit hati saya"

Selingkuh dibalas dengan selingkuh. Joice pun menjalin hubungan terlarang dengan seorang pria beristri.

"Orang ini sangat mengasihi, menyayangi saya. Apapun yang saya minta, itu dia berikan. Akhirnya saya mau berhubungan dengan pria ini karena buat saya merasakan keuntungan. Saya gak dipake oleh dia, tetapi saya mendapatkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan hidup saya"

Tidak puas dengan pria tua, ia pun mengencani seorang pria muda. Joice pun hamil dan kembali melakukan aborsi sebanyak dua kali. Hubungannya dengan pria tua itu pun berakhir. Joice memutuskan menikah dengan pria muda itu, namun tantangan menghadangnya.

"Namun, dia tidak menyangka akan mendapatkan tantangan begitu keras dari ibunya. Akhirnya saya mengambil keputusan ini harus diakhir saya katakana seperti itu. Jadi, saya selalu merasakan hidup ini tidak adil. Kalo saya sayang orang, kok sepertinya gak bisa enak gitu ya"

Joice kembali hidup sendiri setelah kedua orangtuanya meninggal. Ia mewarisi kekayaan orangtuanya, namun hidupnya tetap tidak bahagia.

"Kadang-kadang kalau malam saya suka nangis sendiri. harta banyak, tetapi kosong tidak ada kebahagiaan. Itu yang saya rasakan jadi untuk apa hidup ini,"

Lima pria telah hadir dengan kehidupan Joice, namun selalu berakhir dengan air mata. Empat belas tahun ia menjalani kehidupan sebagai janda, sampai suatu hari ia didatangi seorang pria yang tinggal dekat dengan rumahnya.

"Ia mau sewa satu kamar di rumah saya dan dia mau pake garasi saya untuk jual beli mobil. saya katakan, ‘Silahkan pake aja om, aduh gak usah pake bayar-bayar deh,' Saat itulah dia memberikan kepada saya surat, ‘coba kamu lihat di dalam kitab keimanan kamu'"

Kegelisahan mulai menyelimuti hati dan pikiran Joice. Ia pun mencoba meramal nasibnya sendiri.

"Waduh, hidup saya kok jadi kacau begini. Pertanda gak baik nih, kartu-kartunya tidak ada yang jadi. Rasanya gak ada damai dan sukacita. Tiba-tiba entah kenapa saya jadi teringat dengan catatan Pak Rain ini. saya cari, saya cari. Ternyata benar apa yang Firman Tuhan mengatakan kepada saya bahwa hanya Dialah satu-satunya Yesus Kristus, Juru selamat, jalan keselamatan. Saya kaget karena saya gak pernah dengar itu"

Di saat itulah ia mengalami hal yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.

"Dan dia bilang, ‘Saya mau sungguh-sungguh ikut Yesus. Saya mau didoain,' begitu saya doain dia menangis"

"Disitu saya merasakan saya seperti dipeluk dengan penuh kasih sayang. Ada damai, ada sukacita yang begitu sejuk, begitu melindungi. Rupanya saya salah jalan ya, tetapi Tuhan tetap mengasihi dengan mengambil saya, menyelamatkan hidup saya"

Beberapa bulan kemudian, Joice menikah dengan pria itu. Suaminya yang pertama telah meninggal dunia, namun sebelum meninggal Joice dan mantan suaminya sudah saling mengampuni. Disaat Joice mengikuti sebuah ibadah, sesuatu terjadi pada dirinya.

"Itu saya mengutarakan semua penyesalan saya. ‘Tuhan, Engkau tahu saya pernah berbuat ini, berbuat ini dan saya percaya saat ini juga Engkau telah mengampuni saya. Saya berterima kasih' Hanya Dia yang bisa memampukan, mengubah kehidupan seorang yang begitu hina, begitu jahatnya bisa seperti saya ada hari ini. Hanya Yesus Kristus yang sanggup"

Tiba-tiba, Joice teringat dengan sang ibu yang pernah menyakiti hatinya. Ketika ia didoakan, Joice harus mengambil sebuah keputusan yang penting dalam hidupnya.

"Sekarang saya berkata, ‘gak usah diingat-ingat lagi, Tuhan saja tidak pernah mengingat-ingat dosa kamu', tetapi sekarang bagaimana saya harus meminta maaf kepada ibu saya yang sudah tidak ada, itu sudah bukan urusan kamu lagi. Karena sekarang urusan kamu dengan Tuhan, kamu minta ampun, minta maaf karena kamu pernah punya pikiran untuk membunuh ibu kamu,' kemudian saya bisa terbebaskan"

Joice telah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dicarinya. Hidupnya kini sangat berarti.

"Setelah saya bertobat, terima Yesus ya, apa itu selesai, ‘Tidak!' Lewat proses saya diubahkan dan saya sungguh merasakan hidup yang sekarang ini hidup yang benar-benar baru, benar-benar diubahkan, benar-benar dipulihkan,"

(Kisah ini ditayangkan 15 Maret 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).
Sumber Kesaksian:
Joice Maria

Selasa, 05 Januari 2010

Rencana Tuhan Sangat Indah

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi tentang karya Tuhan Yesus dalam hidup saya yang terindah dan takkan pernah terkubur hingga kapan pun.

Tahun 2002 silam saya diperhadapkan dengan suatu pergumulan yang luar biasa. Ibu saya mengalami sakit keras selama kurang lebih 3 minggu. Ia terbaring lemah dan tidak berdaya. Makan dan minum semuanya harus disuapi oleh orang lain. Waktu itu saya berada di Jakarta dan melayani di sebuah gereja di Jl. Kebon Sirih Jakarta Pusat.

Suatu sore saya begitu gelisah dan memikirkan ibu saya. Saya tidak pernah tahu kalau ibu saya sudah diopname selama 3 minggu. Ketika saya menelpon keluarga, mereka menyampaikan bahwa ibu saya sedang mengalami sakit keras. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke tempat asal saya. Ketika saya menemui ibu saya, saya berusaha menahan air mata saya. Di dalam hati, saya berkata: "saya harus kuat." Ketika ibu saya mendengar bahwa saya telah ada di dalam ruangan di mana ia dirawat, ia segera bangun dengan wajah yang sangat ceria dan penuh bahagia. Hal ini membuat semua keluarga kaget bercampur senang, hal ini disebabkan karena sudah 3 minggu ibu saya tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Kehadiran saya bagaikan air sejuk yang mengalir di dalam tubuhnya. Ia ternyata sudah lama merindukan kehadiran saya di sisinya.

Waktu itu saya duduk di sampingnya dan mengajak dia berdoa. Ketika saya sedang berdoa, saya tidak dapat menahan air mata. Saya sangat sedih dan hancur. Namun puji Tuhan, selama saya berdoa bisa menahan kesedihan saya. Namun ketika saya selesai berdoa, saya tidak sanggup menahan air mata. Waktu itu saya meluapkan kerinduan saya yang dalam dan rasa cinta yang terpendam karena berpisah sekian lama demi panggilan studi untuk melayani TUHAN, dengan menangis sambil memeluk ibu saya. Kami semua akhirnya terlarut dalam sukacita dan kebahagian karena Tuhan menghadirkan saya di tengah-tengah keluarga saya dan secara khusus berjumpa dengan orang yang sangat saya cintai, yaitu ibu saya.

Hari berganti hari, ibu saya semakin pulih kesehatannya. Namun ada suatu hal yang membuat saya hancur... ibu saya menyampaikan sesuatu kepada saya ketika hanya kami berdua berada di dalam ruang perawatannya. Ia menyampaikan sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan seumur hidup saya. Ia memulai cerita sekaligus pengakuan dengan harapan saya dapat memberinya pengampunan... ia mulai menuturkan: "pada kesempatan ini mama ingin menyampaikan sesuatu yang bertahun-tahun mama pendam di dalam hati. Mama mohon maaf serta ampunan darimu karena ketika kamu sedang dalam kandungan mama, mama sudah menolakmu. Mama tidak menginginkan kelahiranmu. Mama berusaha untuk menggugurkanmu. Namun semuanya tidak menghasilkan apa-apa. Waktu kamu lahir, mama menyuruh orang lain untuk menyusuimu. Mama merasa berdosa dan mengalami tekanan batin selama bertahun-tahun. Tapi hari ini mama terbuka dan memohon pengampunan darimu. Mama telah memohon ampun dari Tuhan Yesus, namun hari ini mama berharap kamu mau mengampuni mama." Ketika ibu saya menyampaikan hal ini, saya hanya terdiam dan meneteskan air mata seraya berkata kepadanya, "mama sebagaimana Tuhan Yesus mengampuni mama, saya juga mengampuni mama." Saya hancur dan berkata di dalam hati Tuhan mengapa hal ini harus terjadi? Tuhan Yesus berkata dalam hati saya, justru apa yang saya alami merupakan suatu karya yang luar biasa yang Tuhan sedang buat di dalam hidup saya. Anak yang tidak diinginkan hidup justru dipilih Tuhan untuk diselamatkan dan dipakai-Nya secara khusus untuk melayani Dia. Saya mengalami perasaan hancur bercampur syukur atas apa yang sedang terjadi. Waktu berganti waktu ibu saya mengalami pemulihan yang luar biasa.

Saya pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk melayani Tuhan. Ia melepaskan saya dengan senyuman yang manis. Saya berkata, "Mama, kita akan bertemu Desember nanti untuk natal bersama. Bukankah kita sudah tidak natal bersama selama 8 tahun?" Namun ia berkata, "jangan janji nak, karena janji adalah hutang. Jika Tuhan berkenan hal itu pasti terlaksana." Akhirnya saya menyetujui apa yang ibu saya ucapkan. Saya berangkat ke Jakarta untuk kembali melayani di gereja yang Tuhan percayakan. Ketika saya tiba di Jakarta, ternyata Tuhan berbuat lain. Ibu saya telah dipanggil-Nya kempali ke pangkuan-Nya. saya mengalami perasaan yang hancur. Hancur dan sungguh-sungguh hancur... saya kecewa dengan Tuhan atas apa yang Ia buat di dalam hidup saya. Saya memutuskan untuk melupakan-Nya. Saya tidak mau berdoa lagi, saya tidak pernah ke gereja, saya keluar dari pelayanan. Selama 3 bulan saya tidak pernah mengingat Tuhan. Saya sangat sedih dan kecewa karena Tuhan tidak menjawab doa saya dan saya tidak bisa berjumpa dengan ibu saya yang terakhir kali dan melihat jenazahnya. Waktu terus bergulir. 3 bulan telah lewat dalam kehampaan dan kehancuran hati saya. Namun, di suatu pagi di hari minggu, Tuhan mulai menyapa saya. Di dalam hati saya terdengar suatu suara yang lembut dan manis berkata, "AKU mengasihimu, kembalilah anak-Ku!" Suara itu begitu kuat dan membuat saya tidak berdaya melawannya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti ibadah sore di sebuah gereja di Jakarta Pusat. Ketika saya memasuki ruang ibadah, saat itu sedang ada pujian dan penyembahan di awal ibadah. Saya mengambil tempat duduk paling belakang. Saat itu saya tidak dapat mengeluarkan satu kata pun. Saya hanya bisa menangis dan menangis. Mulai dari awal ibadah berlangsung hingga selesai saya hanya menangis dan memohon belas kasihan-Nya untuk memperbaharui hidup saya. Ia memulihkan hidup saya...!!! Puji TUHAN YESUS. Saya dibangkitkan-Nya dan memulai babak baru bersama Tuhan. Mulai saat itu Tuhan berkarya di dalam hidup dan pelayanan saya.

Saya akhirnya melanjutkan kuliah S-2 di sebuah Institut Theologia di Jakarta. Setelah wisuda pada tahun 2007, Tuhan memimpin saya bergabung dengan sebuah perguruan tinggi theologia di Surabaya. Saya tidak pernah menyangka Tuhan membuat semuanya indah. Saya mendapat posisi yang sangat baik di lembaga itu. Selain mengajar saya juga diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengambil S-2 di Surabaya dengan jurusan yang berbeda. Puji Tuhan, tahun 2009 ini saya akan mengakhiri kuliah S-2 saya yang kedua. Saya juga sedang mempersiapkan diri untuk mengambil program S-3 tahun depan. Semuanya itu hanyalah kemurahan Tuhan bagi saya. Saya sangat berbahagia karena Tuhan Yesus mau memakai saya untuk mengerjakan pekerjaan-Nya.

Akhirnya saya mau sampaikan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita tidak ada yang terjadi kebetulan. Semuanya telah direncanakan-Nya dari semula untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Ia berdaulat atas segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Ia memulai dan mengerjakan di dalam kita rencana kemuliaan-Nya tanpa sedikit pun andil dari kita. SOLA GRATIA, SOLA FIDE, SOLA SCRIPTURA. Soli Deo Gloria.


(Sumber Kesaksian: Shammy )

ALLAHKU tidak pernah meninggalkanku

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Adam diberi Hawa kemudian lahirlah sebuah keluarga; Yesus melakukan pelayanan bersama 12 muridNya dan anggota keluarga yang mendukungNya (seperti Maria dan Marta)

Tetapi dosa dapat merusak sebuah hubungan karena dosa Kain membunuh Habel. Yesus menanggung dosa manusia, karena itu Bapa meninggalkanNya. Yesus diadili tetapi tidak didapati kesalahan. Perpisahan memang selalu menyedihkan, tetapi kemudian Yesus mempersatukan keluarga yang terpisah.

Bapak Sabar (nama samaran) hidup dalam keadaan prasejahtera, sehingga istrinya juga harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka mempunyai 3 orang anak. Suatu saat ada seorang teman yang mengajak Pak Sabar untuk ikut ke gereja. Setelah mendengarkan khotbah Pak Sabar mulai tertarik untuk mengenal kebenaran. Setelah beberapa bulan berlalu Pak Sabar memutuskan untuk percaya kepada Yesus.

Mulai saat itu Pak Sabar mengajak istrinya untuk selalu mendampinginya beribadah. Tempat ibadah memang jauh, mereka harus pergi ke kota, tetapi itu tidak menyurutkan niat Pak Sabar untuk mencari Tuhan yang menyelamatkan dan menebus dosa-dosanya.

Pada suatu hari anak-anaknya berkata ”Kami tidak setuju jika bapak dan ibu menjual iman supaya dapat menyekolahkan kami!” Mereka juga berkata bahwa mereka tidak akan mengikuti kepercayaan orang tua mereka. Pak Sabar berkata ”Kalian jangan melarang orang tua mengenal kebenaran, nanti suatu saat kalian pasti akan mengerti.”

Pak Sabar mulai diasingkan oleh keluarga besarnya. Tidak ada lagi yang mau berkunjung ke rumahnya, biasanya kalau ada keluarga dari luar kota datang pasti mereka datang untuk berkunjung, namun sekarang tidak ada lagi yang mau menghampiri rumahnya. Ada lagi kejadian berat yang menimpa Pak Sabar. Ketika suatu hari ada seorang teman yang meminta tolong untuk menjaga rumahnya, tanpa berpikir panjang Pak Sabar menolong untuk menjagakan rumah temannya. Setelah selesai Pak Sabar kembali ke tempat kerjanya sebagai buruh, tetapi ternyata dia ditoloak oleh juragannya, karena ada pekerja baru yang sudah menggantikannya. Selama beberapa waktu Pak Sabar tidak ada pekerjaan dan istrinya yang berusaha tetapi akhirnya Tuhan buka jalan Pak Sabar bisa membuka usaha sebagai penjual makanan.

Ternyata usahanya yang baru ini diberkati Tuhan, usahanya maju dan kehidupan ekonomi lebih baik dari pekerjaan sebelumnya.

Lebih indah lagi, suatu hari salah seorang anakny yang pernah tidak setuju dengan keputusan mereka untuk mengikut Yesus bertobat dan mau ikut beribadah dan mengambil keputusan untuk percaya kepada Yesus.

Dosa dan kebenaran adalah seperti gelap dan terang, yang selalu mempunyai perbedaan. Tetapi kasih dalam Yesus dapat mempersatukannya di dalam terang. Pak Sabar kini telah kembali bersatu dengan anak-anaknya dan kondisi ekonominya pun telah dipulihkan.

Apakah saudara merasa sedih karena ditolak oleh keluarga, kerabat dan masyarakat sekelilingmu? Yesus telah menang karena itu jangan terus bersedih hati, nantikan saat-saat indah yang terbaik – saat Tuhan Yesus menjamah hati yang keras, karena Yesus telah mati bagi mereka yang terbelenggu oleh dosa.

Kasih Yesus akan selalu memenuhi hati manusia yang terbuka dan menerimaNya



(Cerita Elia )

Senin, 04 Januari 2010

HATI BAPA

Robby adalah seorang pemuda yang takut akan Tuhan. Ia selalu berdoa untuk pasangan hidup agar ia bisa di berikan seorang isteri yang masih muda juga yang baik hati dan takut akan Tuhan. Akhirnya Tuhan menjawab doa Robby. Ia telah menemukan seorang gadis yang cantik serta takut akan Tuhan. Kedua orang ini pun menikah. beberapa tahun dalam pernikahan mereka belum juga mendapatkan seorang anak. Robby pun selalu mengajak isterinya tuk berdoa, 'Tuhan, berikanlah kami anak yang terbaik buat kami.' Setelah mereka berdoa dan berdoa, akhirnya istrinya pun hamil. mendengar istrinya hamil robby pun melonjak kegirangan. Setelah 9 bulan istrinya mengandung, maka lahirlah seorang anak bagi mereka, dan anak itu di namai Yafet. Ternyata yafet lahir dalam keadaan cacat mental yang tidak dapat disembuhkan. Melihat keadaan putranya, robby tak kuasa lagi untuk menitikan air mata dan berkata sambil berdoa, 'Tuhan, apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku tahu semuanya baik dan Engkau tidak pernah mencelakakan anak-anakMu.' Setelah yafet berumur 3 tahun, robby selalu menunjukan perhatiaanya kepada yafet. meski keadaan yafet cacat itu tidak membuat robby untuk mengucilkan yafet, bahkan kasih sayang robby begitu besar dengan keadaan anaknya. Setiap robby pergi menghadiri pesta dengan rekan kerjanya atau teman-temannya yang sedang berbahagia, ia selalu membawa istri serta anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan anaknya. 'Teman, liat anak saya nih…ganteng kan ?' Ia selalu mengatakan demikian, karena ia tahu, anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya.. Dan ia sangat mengasihi anak ini, karena ini anaknya. Meskipun dia cacat.

Setelah anak itu bertumbuh menjadi remaja, kecacatannya semakin kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika ia ketemu matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes. Tetapi meskipundemikian, kedua orang tuanya tetap sangat sangat sayang dengan yafet meski ia cacat. Pagi-pagi sekali yafet sudah bangun, sekitar pukul 4.30. Ia lalu pergi berdoa seperti ia lakukan setiap pagi. 'Tuhan, yafet berterima kasih kepadamu, karena Engkau telah memberikan papa buat yafet yang baik hati. juga mama yang selalu mengasihi yafet setiap waktu. Tuhan,tolong Kau jaga mereka setiap hari ya. Amin.' demikian doa yafet setiap pagi. Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur untuk membuat sarapan buat orang tuanya, ia akan membuat sesuatu yang spesial buat sarapan org tuanya. Ia mengambil sepotong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel waktunya sampai 15 menit. Tentu saja hasilnya gosong. Setelah bunyi 'ting', maka yafet menaruhnya di atas sebuah piring. Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang sangat banyak sekali. Ia berpikir,jika di kasih banyak tentu akan enak rasanya. Setelah itu ia berlari menuju kulkas untuk mengambil telur, ia pun menggoreng tanpa minyak sayur ia memecahkan telur dan ia menggoreng telur, telur yang ia goreng tidaklah matang dan berantakan. Ia lalu meletakan telur yang di masak di atas piring yang lain. sambil bergerak cepat ia ingin membuat kopi untuk papanya.Dengan bergegas ia mengambil mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika papanya membuat kopi hanya dengan 2 sendok kopi bubuk, yafet bahkan memakai 5 sendok kopi bubuk. ia berpikir, 'Kalau 2 sendok saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka karena pasti harum.' Jadilah kopi yang berwarna hitam pekat. Setelah membuat semua lalu ia mengambil nampan, lalu dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, ia menaruh semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi hitam pekat tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan ia pun menyuruh ayahnya agar memakan sarapan yang ia buat. 'Papa, ini yafet buat sarapan untuk papa, yafet buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat papa.' Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma 'sedap' dari roti gosong, telur mentah dan kopi hitam tersebut. 'Wah pasti enak nih.' puji robby kepada yafet. Sebelum si robby melipat tangannya untuk berdoa, si yafet berkata, 'Pa, kali ini aku doain makanan ini buat papa ya, ' kan biasanya papa yang doain. ya papa ya?' Sebelum ayahnya sempat mengangguk, si yafet sudah melanjutkan, 'Papa ikutin ya: Tuhan Yesus, terima kasih, atas makanan ini, yang telah Tuhan sediakan. Terima kasih Tuhan, amin.'
Lalu robby mengambil roti gosong untuk dimakan, dan setelah mengunyah roti itu, si yafet dengan polosnya berkata, 'Enak kan pa?'
'Iya, enaaaak sekali,' sambil mengganguk angguk ia menjawab. Lalu melanjutkan makan roti itu. Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah yang kelihatan berantakan sekali. Dan si anak bertanya, 'Telurnya enak kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….'
'Wah...kamu yang masak semua ini? Enak sekali lho.' kata robby sambil mengangkat jempol buat si yafet. Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi hitam pekat itu. Si anak bertanya lagi, 'Harum dan enak kan pa?' Si ayah tanpa expresi mual apapun, membalasnya, 'Pahit, tapi papa suka sekali.' Dan dengan lugunya si anak menjawab, 'Ya iya dong papa, kopi kan pahit…,' karena ia mengira ayahnya sedang bercanda.Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata 'Yafet, kamu tau nggak…'
'Nggak paa,' jawab yafet. Lalu si ayah melanjutkan, 'Kalau semua masakan yang kamu bikin, enaaaaak sekali.'
'Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.' jawab yafet dengan perasaan bangga. 'Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?' tanya robby. Si anak sambil menggelengkan kepala, 'Nggak tau pa….' sahut yafet. 'Karena hari ini kamu dah buat sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.' Lalu si ayah melanjutkan, 'yafet, kamu tahu gak semua itu kenapa?? ' yafet menggelengkan kepalanya dengan bingung. 'Nggak tahu pa…..' sahut yafet. 'karena papa sangat sayaaaaaaang sekali sama kamu?'sambil menatap anaknya ia menitikan air mata dan ia melanjutkan, 'Karena kamu anak papa yang udah bikin papa, seneeeeeeeeeeeng banget.'
Lalu dengan lugunya yafet berkata, 'yafet juga sayang sama papa.'
Lalu sambil menitikan air mata, ia memeluk anaknya, dan berkata kepada anaknya, 'Terima kasih ya nak, karena telah memasakan sarapan buat papa. Semuanya terasa, enaaaaak sekali.' Lalu si anak menjawab, 'Sama-sama papaah….' Dan si ayah lalu berdoa dalam hatinya, 'Tuhan terima kasih, karena Engkau sudah memberikan anak yang sangat sayang padaku…'

Kisah ini adalah satu gambaran antara kita dengan Bapa di surga.
kitalah adalah gambaran si yafet yang memberikan kepada ayahnya, roti gosong, telur mentah dan kopi hitam. Meski sesungguhnya pemberian itu tidaklah sempurna, tetapi sang ayah mau menerima dengan senang hati, bahkan ia tetap memberikan apa yang akan di minta oleh anaknya.
Demikian yang kita berikan kepada BAPA di surga. Jika kita memuji DIA dan menyembah Dia tetapi masih ada selai (kekecewaan) yang banyak, telur yang mentah (kekhawatiran), kopi yang hitam pekat (kepahitan) Tuhan tetap mau terima dengan senang hati,karena Dia sangat sayang sekali dengan kita.
Jika kita saat ini mau berikan yang terbaik buat DIA. Maka kita kurangi selai (kekecewan) dengan di olesi 'SUKACITA'. Telur mentah (Kekhawatiran) di ganti dengan yang baru telur yang matang 'BERSYUKUR SENANTIASA'. Juga kopi hitam (kepahitan) di ganti dengan Teh manis 'KASIH YANG MENGAMPUNI'
Maka kita bisa mempersembahkan semuanya itu dengan benar di hadapan BAPA disorga.
HAppy Sunday All.......Gbu
berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Sabtu, 02 Januari 2010

Mendapatkan Keturunan

Kesaksian: Saya menikah Maret 2005 di usia 34 tahun. Kehidupan rumah tangga kami berjalan seperti layaknya rumah tangga lain, penuh warna-warni romantika kehidupan berumahtangga. Bulan berganti bulan, hingga tahun berganti, belum juga kami dikaruniai seorang anak, doa tetap dipanjatkan, tapi kok belum juga mendapat jawaban. Hingga suatu saat di bulan November 2007, dimana seorang hamba Tuhan yang juga merupakan pembimbing rohani kami berkunjung datang ke kota dimana kami tinggal, hamba Tuhan tersebut menyempatkan singgah ke rumah kami dan berdoa bersama kami. Kami bersepakat untuk menaikkan doa puasa setiap hari rabu (suami saya belum paham caranya berdoa puasa, jadi hanya saya dengan hamba Tuhan tersebut).

Di bulan Desember 2007, saya merasakan ada yang aneh di dalam tubuh saya, sedikit mual dan eneg. Suatu siang di pertengahan bulan Desember 2007, saya mendengar suatu suara yang mengatakan saya hamil, saya langsung berdoa, "jika suara ini suara Tuhan saya mengucap syukur terima kasih Tuhan dan jadilah kehendak-Mu Tuhan, jika bukan suara Tuhan, saya tolak dalam nama Yesus." Minggu pertama bulan Januari 2008, saya merasakan tetap ada yang aneh dalam tubuh saya dan saya sudah terlambat 2 minggu (sering saya terlambat haid karena kelelahan bekerja), saya dan suami pergi membeli alat tes kehamilan, waktu saya tes hanya muncul 1 garis, aahhh... belum juga waktunya pikir kami, selang 15 menit kemudian, iseng saya buka kembali hasil tes tadi, muncul garis kedua samar-samar. Kami berdoa semoga Tuhan menjawab doa kami kali ini, 1 minggu kemudian kami cek kembali dan kali ini muncul 2 garis yang sama tebalnya. Keesokan hari kami pergi ke dokter spesialis kandungan, dan ternyataaa... menurut perkiraan dokter saya hamil 3 minggu. Puji Tuhan... Halleluya!

Suara yang saya dengar itu ternyata suara Tuhan, dan saya hamil, saya berhenti bekerja dan menjaga kehamilan saya hingga bulan Sepember 2008 lahir putri kami yang cantik, cahaya dalam keluarga kami.

Bagi siapapun yang membaca posting saya ini, percayalah bahwa Tuhan menjawab doa kita dengan cara Tuhan sendiri, Ia menguji kita apakah kita sabar dan tetap mencari wajah-Nya ataukah kita menggerutu dan menyalahkan Tuhan karena belum menjawab doa kita. Kesabaran dan ketekunan membuahkan hasil yang manis dan indah pada waktu-Nya.

Tuhan memberkati.


(Sumber : Ibu Caroline)

AKU MAU MENJADI ANAK YANG BAIK HATI

Di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Ada seorang pemuda menemukan anak kecil diatas hamparan rumput, pemuda itu menemukan si bayi kecil yang sedang kedinginan. Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Pemuda itu berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati sang pemuda memeluk bayi tersebut, memberikan dia nama Yu Yuan. Ia seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ia hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi disekolahnya di ceritakan kepada papanya. Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, tiba tiba ia melihati bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara ia tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga ketika papanya tahu ia langsung membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”. Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”
Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum, namun bukan senyuman yang keluar melainkan air mata.
Suatu saat wartawan Chuan Yuan yang bekerja di sura t kabar Cheng Du Wan Bao, mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana buat yu yuan. Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring diranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun tampak basah
Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah. Yu Yuan pernah bertanya kepada shii min: “ kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?"
shii min menjawab, "karena mereka semua adalah orang yang baik hati”.
“saya juga mau menjadi orang yang baik hati”.jawab anak itu
“Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. balas shii min. Dari bawah bantal tidurnya Yu Yuan mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada shii min. “ini adalah surat wasiat saya.”kata yu yuan
shii min kaget sekali setelah membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis surat wasiat.
“selamat tinggal Shii mama, sampai nanti ketemu lagi di Surga. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat shii min tidak bisa menahan air matanya

Pendarahan dipencernaan Yu yuan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan dipencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat berusaha untuk menolong Yu Yuan, akhirnya ia meninggal akibat penderitaan itu.
Pada saat pemakaman Yu Yuan dilaksanakan didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain. Meraka adalah orang2 yang telah memberi bantuan kepada yu yuan dari berbagai daerah hadir untuk mengiringi kepergian Yu Yuan. Usai pemakaman, sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian. Salah satu anak yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku juga mau menjadi anak baik hati"

AYAH YANG HEBAT bagian 2

Ada satu kisah di kota Massachusett tentang seorang anak cacat dengan ayahnya yang satu team memberikan motivasi bagi dunia. Mereka adalah Dick Hoyt dan Rick Hoyt. Rick Hoyt terlahir dalam keadaan cacat fisik dari keluarga dick hoyt. Pada kelahiran Rick di tahun 1962, tali pusar melilit di lehernya dan memutus aliran oksigen ke otaknya. Dick dan istrinya, Judi, diberitahu bahwa tak ada harapan bagi perkembangan anak mereka. Namun mereka tetap membawa buah hatinya pulang dan berniat untuk membesarkannya seperti anak normal lainnya semampu mereka.
Tak ada satu sekolahpun yang mau menerimanya sebagai murid. Hanya karena ia lumpuh layuh dan tak dapat berbicara, hingga orang tuanya memutuskan untuk mengajar dan mendidik anaknya sendiri. Setiap pagi ayahnya, Dick Hoyt, selalu membawa anaknya bersepada keliling kota. Dan sore hari ia membawa anaknya berjalan dengan mendorong kusri roda. Pertolongan datang tatkala sebuah tim dari Universitas Tufts mendapati bukti empiris mengenai pengetahuan pemahaman Rick. Lalu mereka menceritakan sebuah humor dan Rick tertawa.Suatu Ketika, ada beberapa Insinyur dari Universitas Tufts menyadari akan kondisi Rick, mereka berusaha untuk membantu RIck untuk berkomunikasi, di saat para Insinyur itu datang untung melihat kondisi Rick, mereka sangat kaget, karena Rick bercanda dengan mereka. lalu para Insinyur itu mengatakan bahwa "Rick tidak sepenuhnya Pecah melainkan Retak !" Dengan Biaya $ 5.000 para insinyur itu merancang komputer bagi Rick yang memunginkan RIck untuk berkomunikasi.

Hingga suatu saat mereka melihat suatu pertandingan triathlon mereka tertarik untuk mengikutinya. Lalu sang ayah bertanya pada anaknya, "Rick maukah kita memecahkan rekor untuk dunia ini' Tanya sang ayah kepada anaknya yag cacat. Rick hanya menggoyangkan badannya dengan gembira tanda setuju karena memang ia tidak bisa bicara dengan jelas. Triathlon yaitu semacam marathon dengan rupa-rupa olah raga seperti lari yang berjarak 26,2 mil, ditambah bersepeda sejauh 112 mil, serta berenang 2,4 mil. Belum lagi mereka harus mendaki gunung dan lain sebagainya. Total keseluruhannya sekitar 3,735 mil. Sebelum pertandingan triathlon ini akan diselenggarakan, Dick harus belajar berenang, karena dia memang tidak bisa berenang sejak kecil. Dan ia mulai menaiki sepeda serta berlari dengan membawa anaknya di kursi roda. Dengan sepeda rakitan baru untuk membocengkan Rick di bagian depan sepeda dan sebuah perahu karet yang diikat di pinggang Dick untuk menarik Rick. Rick berkata kepada ayahnya apakah ia dapat mengikuti pertandingan itu. Dan tanpa ragu, sang ayahpun bersedia untuk mengikutinya. Jadilah mereka mengikuti pertandingan yang menghabiskan waktu sangat lama itu. Sepanjang pertandingan, Dick terus mendorong dan menarik Rick. Dick berjuang dengan sekuat tenaga berenang menarik Rick yang terbaring di dalam perahu.Dick berlari mendorong kursi roda Rick tanpa lelah, Dick menggendong Rick memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya, mereka berdua melewati lika-liku perjalanan yang sulit ditempuh dengan waktu yang sangat lama. Ketika pertandingan usai, dan Rick ditanya mengenai perasaannya saat menjalani pertandingan bersama ayahnya, Rickpun menjawab,”aku merasa seperti aku tidak cacat, dan aku ingin sekali membiarkan ayah yang duduk di kursi roda ini dan aku yang berlari mendorong dan menariknya.” pernyataan Rick melalui komputer interaktifnya.
"Rick adalah inspirasi saya dan memotivasi saya, dengan caranya mencintai olah raga dan kompetisi," ucap dick. "Ayah adalah salah satu dari panutan saya. Setelah ia berniat melakukan sesuatu, ia akan melakukannya, apapun itu, sesulit apapun itu, sampai selesai. Misalnya saja saat kami memutuskan untuk mengikuti triathlon, ia berlatih keras, hingga 5 jam perhari, lima kali seminggu, bahkan pada saat ia sedang bekerja." balas rick.

Kisah ini membuktikan kepada kita bahwa ada sebuah pengorbanan yang rela diberikan seorang ayah terhadap anaknya yang sangat terbatas. Ada seorang ayah yang punya cinta kasih yang begitu besar menerima sang anak dengan ketidaksempurnaan tubuh. Ada seorang ayah yang selalu mau berlari, berenang, mendaki, mendorong dan menarik tubuh sang anak untuk bersama melewati sebuah pertandingan dengan medan yang sangat berat dengan jarak dan waktu yang sangat lama. Ada seorang ayah yang menyatakan ia bersedia untuk bertanding bersama sang anak sekalipun ia tahu anaknya tidak dapat berbuat banyak. Ada seorang ayah yang tahu bahwa sang anakpun dapat bertahan dalam pertandingan itu, bahwa sang anak kuat untuk bertanding karena ada ayah disisinya yang dengan setia selalu bersamanya.

AYAH YANG HEBAT

Ada satu kisah di kota Massachusett tentang seorang anak cacat dengan ayahnya yang satu team memberikan motivasi bagi dunia. Mereka adalah Dick Hoyt dan Rick Hoyt. Rick Hoyt terlahir dalam keadaan cacat fisik dari keluarga dick hoyt. Pada kelahiran Rick di tahun 1962, tali pusar melilit di lehernya dan memutus aliran oksigen ke otaknya. Dick dan istrinya, Judi, diberitahu bahwa tak ada harapan bagi perkembangan anak mereka. Namun mereka tetap membawa buah hatinya pulang dan berniat untuk membesarkannya seperti anak normal lainnya semampu mereka.
Tak ada satu sekolahpun yang mau menerimanya sebagai murid. Hanya karena ia lumpuh layuh dan tak dapat berbicara, hingga orang tuanya memutuskan untuk mengajar dan mendidik anaknya sendiri. Setiap pagi ayahnya, Dick Hoyt, selalu membawa anaknya bersepada keliling kota. Dan sore hari ia membawa anaknya berjalan dengan mendorong kusri roda. Pertolongan datang tatkala sebuah tim dari Universitas Tufts mendapati bukti empiris mengenai pengetahuan pemahaman Rick. Lalu mereka menceritakan sebuah humor dan Rick tertawa.Suatu Ketika, ada beberapa Insinyur dari Universitas Tufts menyadari akan kondisi Rick, mereka berusaha untuk membantu RIck untuk berkomunikasi, di saat para Insinyur itu datang untung melihat kondisi Rick, mereka sangat kaget, karena Rick bercanda dengan mereka. lalu para Insinyur itu mengatakan bahwa "Rick tidak sepenuhnya Pecah melainkan Retak !" Dengan Biaya $ 5.000 para insinyur itu merancang komputer bagi Rick yang memunginkan RIck untuk berkomunikasi.

Hingga suatu saat mereka melihat suatu pertandingan triathlon mereka tertarik untuk mengikutinya. Lalu sang ayah bertanya pada anaknya, "Rick maukah kita memecahkan rekor untuk dunia ini' Tanya sang ayah kepada anaknya yag cacat. Rick hanya menggoyangkan badannya dengan gembira tanda setuju karena memang ia tidak bisa bicara dengan jelas. Triathlon yaitu semacam marathon dengan rupa-rupa olah raga seperti lari yang berjarak 26,2 mil, ditambah bersepeda sejauh 112 mil, serta berenang 2,4 mil. Belum lagi mereka harus mendaki gunung dan lain sebagainya. Total keseluruhannya sekitar 3,735 mil. Sebelum pertandingan triathlon ini akan diselenggarakan, Dick harus belajar berenang, karena dia memang tidak bisa berenang sejak kecil. Dan ia mulai menaiki sepeda serta berlari dengan membawa anaknya di kursi roda. Dengan sepeda rakitan baru untuk membocengkan Rick di bagian depan sepeda dan sebuah perahu karet yang diikat di pinggang Dick untuk menarik Rick. Rick berkata kepada ayahnya apakah ia dapat mengikuti pertandingan itu. Dan tanpa ragu, sang ayahpun bersedia untuk mengikutinya. Jadilah mereka mengikuti pertandingan yang menghabiskan waktu sangat lama itu. Sepanjang pertandingan, Dick terus mendorong dan menarik Rick. Dick berjuang dengan sekuat tenaga berenang menarik Rick yang terbaring di dalam perahu.Dick berlari mendorong kursi roda Rick tanpa lelah, Dick menggendong Rick memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya, mereka berdua melewati lika-liku perjalanan yang sulit ditempuh dengan waktu yang sangat lama. Ketika pertandingan usai, dan Rick ditanya mengenai perasaannya saat menjalani pertandingan bersama ayahnya, Rickpun menjawab,”aku merasa seperti aku tidak cacat, dan aku ingin sekali membiarkan ayah yang duduk di kursi roda ini dan aku yang berlari mendorong dan menariknya.” pernyataan Rick melalui komputer interaktifnya.
"Rick adalah inspirasi saya dan memotivasi saya, dengan caranya mencintai olah raga dan kompetisi," ucap dick. "Ayah adalah salah satu dari panutan saya. Setelah ia berniat melakukan sesuatu, ia akan melakukannya, apapun itu, sesulit apapun itu, sampai selesai. Misalnya saja saat kami memutuskan untuk mengikuti triathlon, ia berlatih keras, hingga 5 jam perhari, lima kali seminggu, bahkan pada saat ia sedang bekerja." balas rick.

Kisah ini membuktikan kepada kita bahwa ada sebuah pengorbanan yang rela diberikan seorang ayah terhadap anaknya yang sangat terbatas. Ada seorang ayah yang punya cinta kasih yang begitu besar menerima sang anak dengan ketidaksempurnaan tubuh. Ada seorang ayah yang selalu mau berlari, berenang, mendaki, mendorong dan menarik tubuh sang anak untuk bersama melewati sebuah pertandingan dengan medan yang sangat berat dengan jarak dan waktu yang sangat lama. Ada seorang ayah yang menyatakan ia bersedia untuk bertanding bersama sang anak sekalipun ia tahu anaknya tidak dapat berbuat banyak. Ada seorang ayah yang tahu bahwa sang anakpun dapat bertahan dalam pertandingan itu, bahwa sang anak kuat untuk bertanding karena ada ayah disisinya yang dengan setia selalu bersamanya.

Memikul Beban

Alkisah pada suatu saat Tuhan sedang bersantai-santai di ruang kerja-Nya di sorga. Terbesit di pikiran-Nya bahwa Dia ingin mendirikan suatu perusahaan baru di Sorga untuk memantau dan menjawab doa orang-orang yang selalu setia kepada-Nya dalam doa. Salah satu malaikat-Nya yang memiliki gelar doctor di bidang sistem infomasi lulusan salah satu universitas terkemuka di sorga, dipanggil dan diangkat-Nya sebagai assisten direktur perusahaan tsb, dan Tuhan sendiri yang adalah direkturnya.

"Bozz kerja aku apa aja nih ?" Tanya sang malaikat.

"Selesaikan semua misi-Ku di bumi untuk orang-orang benar yang tidak jemu-jemu dan yang selalu berdoa kepada-Ku dalam kesetiaannya. Aku akan menyediakan bagimu sebuah ruangan khusus yang dilengkapi dengan 1 buah komputer canggih yang mana engkau hanya bs memberi laporan kepada-Ku setiap saat, karena dari komputer itu engkau dapat melihat secara live semua aktivitas orang-orang yang Aku kasihi di bumi, Karena Aku telah memasang suatu alat yang sangat canggih berupa Hidden Kamera di seluruh bumi dan di seluruh ruangan tempat tinggal orang-orang yang Aku kasihi" jawab sang bozz sambil chating-chatingan dengan sang malaikat.

"Bozz-bozz........!!!! Aku melihat seorang anak-Mu rajin banget berdoa dengan tidak jemu-jemu. Setiap saat dia bergumul untuk salah satu pergumulan hidupnya yang di butuhkannya, tapi aku tidak pernah bisa mendengar apa yang dikatakannya, kata bozz komputer ini canggih" kata sang malaikat dengan sedikit kebingungan, saat bekerja selama ±75 hari di perusahan itu.


"Yup.... engkau hanya bisa melihat dan memantau semua aktivitas mereka karena itu tugasmu, namun yang Mendengar dan Menjawab Doa/pergumulan hidup Dia adalah Aku sebagai pemimpin perusahaan yang jg memberi yang terbaik buat dia, karena Aku memiliki segala-galanya" jawab Tuhan.

"Bozz...!! sampe berapa lama doa-doanya dijawab, bukannya dia cukup setia dan dengan tidak jemu-jemu dia selalu datang meminta pertolongan-Mu bozz" tanya sang malaikat.

"Aku tidak akan pernah terlambat dan tidak akan mengulur-ulur waktuku untuk menjawab dia" jawab Tuhan dengan lembut.

"Tapi sampe kapan bozz, dia seperti agak kesal menunggu doanya di kabulkan" jawab sang malaikat dengan sedikit kesal.

"Pada saatnya akan tiba bahwa aku akan menjawab dia dan akan memberikan kejutan-kejutan yang sangat istimewa yang pasti menyenangkan hatinya. Aku sedang mendidik dia supaya tidak menjadi anak-anak yang gampangan, tetap menjadi anak-anak yang dewasa, rendah hati dan makin mengasihi-Ku. Aku mau dia menyerahkan pergumulan hidupnya kepada-Ku, karena bukan soal berat atau ringannya masalah/pergumalan itu, tp seberapa lama dia memikulnya sendiri, itulah yang membuat dia semakin capek dan tidak pernah mengandalkan Aku" kata Tuhan dengan penuh bijaksana.

"Okeh deh bozz, bozzku emang bae banget. Aku cau dulu ya bozz, capek juga nih kerja seharian nanti kita lanjut lagi ya. See u bsk" jawab sang malaikat sambil memasang alat pemantau otomatis di komputernya.




Seseorang yang bijaksana mengatakan :
Mana yang lebih berat, mengangkat sebuah gelas setengah liter air dengan 1 tangan selama 1 jam penuh, atau mengangkat gelas tersebut selama 10 jam???

Jadi bukan soal berat atau ringannya masalah/pergumalan itu yang kita hadapi tetapi seberapa lama kita memikul masalah itu dan mau meletakkannya dan menyerahkan pada Tuhan sehingga bebannya akan semakin ringan:-)....

GBU



(Sumber : yonny )

Rabu, 30 Desember 2009

Ergi, Buah Hati Yang Nyaris Pergi

Ergi adalah seorang anak yang sangat lincah dan super aktif baik di rumah maupun di sekolah. Tedy Christian, ayahnya, begitu menyayangi Ergi, anak semata wayangnya. Kehadiran Ergi di dalam keluarga Tedy sangat dinantikan karena Tedy dan Melyana harus menunggu selama tiga tahun sampai akhirnya Tedy hadir dalam kehidupan mereka. Namun pada suatu siang mereka hanya bisa pasrah mendapati anaknya terkapar karena tertabrak truk.

5 Desember 2006

Pada siang itu, Ergi ditemani oleh mbaknya membeli minuman di warung depan rumah persis di sebelah jalan. Mbaknya yang sedang mengambil sedotan tidak terlalu memperhatikan Ergi sedangkan Ergi sendiri setelah menerima minuman tanpa sedotan langsung mau pulang ke rumah. Tanpa disangka, di waktu yang bersamaan sebuah mobil truk yang bermuatan limun sedang menyalip kendaraan lain dan posisi Ergi sudah berada di bibir jalan. Tanpa dapat dihindari lagi, tubuh mungil Ergi ditabrak truk tersebut.

Johan, paman Ergi, yang sedang berada di sekitar tempat kejadian segera berlari mendengar teriakan histeris mbaknya memanggil nama Ergi. Johan mendapati tubuh Ergi yang masih tergeletak di bahu jalan dengan luka menganga di kepala. Tanpa berpikir panjang, Johan segera membawa Ergi ke rumah sakit. Johan menekan tangannya ke luka Ergi yang menganga, berusaha menghentikan darah yang terus mengalir.

Tedy dan Melyana, istrinya, saat itu sedang berada di rumah orang tua Melyana. Tedy ke sana bermaksud menjemput Melyana sekalian membawa pesanan Suryana, ayah mertuanya. Teriakan massa menyebabkan Suryana segera mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Suryana serta merta mendatangi massa mencari informasi sedangkan Teddy sendiri malah beranjak ke belakang karena hatinya ciut jika mendengar berita-berita yang mengerikan.

Tanpa disangka, informasi massa menyebutkan bahwa korban tabrakan bernama Ergi. Mendengar hal ini, saat itu juga Teddy merasa jantungnya berhenti berdetak dan darahnya berhenti mengalir. Melyana sendiri langsung pingsan mendengar kabar itu. Teddy segera berlari ke tempat kejadian tapi ia tidak dapat menemukan Ergi karena Johan sudah membawanya terlebih dahulu ke rumah sakit.

Kritis Tanpa Pengharapan

Nyawa Ergi terancam. Akibat benturan keras di bagian kepalanya, Ergi harus segera menjalani operasi. Kondisi Ergi sangat parah. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi dengan kondisi Ergi yang seperti itu. Dengan tubuh dan usia sekecil Ergi (3 tahun) yang mendapat luka serius di kepalanya, besar kemungkinan Ergi akan mati. Adapun kemungkinan yang lain, seperti cedera di kepala pada umumnya, meskipun sembuh bisa saja ada beberapa saraf yang terganggu karena pengaruh luka tersebut dan menyebabkan kelainan. Dalam kondisi kritis tersebut, pihak rumah sakit pun angkat tangan karena peralatan yang tidak memadai dan merujuk Ergi ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya.

Sesampainya di sana, hasil CT-Scan menunjukkan selain cedera pada bagian kanan atas kepala, ternyata diketahui ada semacam cairan yang aktif di kepala bagian kiri atas, yang diduga kalau berkembang dapat menyebabkan penyakit hydrosepalus (kepala membesar). Saat itu juga dokter meminta persetujuan Tedy untuk segera mengoperasi Ergi dengan resiko apapun hasilnya nanti. Kemungkinannya hanya 30% Ergi dapat selamat.

"Luka yang menekan ke jaringan otak bisa menyebabkan kelumpuhan. Karena memang letak luka itu di daerah paritalnya," jelas dr. Malikuswari, Sp. BS yang menangani Ergi.

Tanpa berpikir panjang, Tedy langsung menandatangani surat persetujuan itu karena sudah tidak banyak waktu lagi untuk membawa Ergi ke Jakarta berobat ke rumah sakit yang lebih besar.

Saat Ergi menjalani operasi, Tedy hanya bisa pasrah dan berkata di dalam hatinya, "Tuhan, kalau Ergi Engkau angkat sekarang, aku rela karena aku percaya Ergi akan lebih bahagia nantinya". Tapi setelah mengatakan hal seperti itu, entah kenapa Tedy tidak merasa damai sejahtera. Hatinya sepertinya menolak perkataan itu bahkan Tedy merasa yakin kalau Ergi akan sembuh.

Setelah operasi, harapan Ergi untuk hidup belum terjawab. Meskipun operasinya berjalan dengan lancar, tapi masa krisis Ergi belum berakhir. Kemungkinannya untuk hidup sangat kecil. Jika kondisinya bisa stabil, Ergi mungkin bisa diselamatkan dan dokter memperkirakan Ergi akan segera sadar dalam waktu kurang lebih satu minggu.

Melyana yang melihat kondisi Ergi di ruang ICU hanya dapat memanggil namanya dengan penuh kesedihan. Hanya doa yang dapat terus dipanjatkan Tedy dan Melyana dengan tiada henti, memohon kesembuhan dan kehidupan bagi anaknya.

Mukjizat Terjadi

Teddy dan Melyana hanya dapat berharap mukjizat dari Tuhan terjadi atas anak yang sangat mereka sayangi. Saudara-saudara seiman banyak yang datang berkunjung dan mendukung Tedy dan Melyana berdoa secara pribadi memohon kesembuhan Ergi. Selama menunggu masa kritis, Tuhan menunjukkan kuasanya. Selang tiga hari di ruang ICU, Ergi mulai menggerakkan kakinya, tangannya pun dengan lemah mulai bergerak. Teddy dan Melyana dengan penuh ucapan syukur berterima kasih kepada Tuhan karena mereka mulai melihat tanda-tanda kehidupan kembali atas Ergi.

Kondisi Ergi semakin hari semakin membaik sampai akhirnya dokter memperbolehkannya pulang ke rumah. Tedy dan Melyana sangat bersyukur.

"Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena Yesus memang benar-benar berkuasa," Melyana bersaksi dengan penuh sukacita.

Mukjizat Tuhan nyata atas keluarga Tedy. Saat ini Tedy dan Melyana dapat melihat kembali keceriaan Ergi.

"Puji Tuhan, saya sangat bersukacita. Anak saya yang seharusnya meninggal, bahkan dokter sudah memprediksikan tidak ada harapan, tetapi saya melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam keluarga saya," ujar Tedy menutup kesaksiannya dengan penuh ucapan syukur.

(Sumber Kesaksian : Teddy Christian)

Mujizat Kesembuhan

Elia adalah anak tunggal dari pasangan Maxi Sigar dan Chenni Sigar. Tidak ada yang menyangka sebuah kecelakaan kecil membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan Elia. Hari itu, Kamis tanggal 5 April 2007 jam 11 siang, Elia yang sedang bercanda dengan temannya terjatuh di kamar. Awalnya Elia hanya bermaksud untuk pura-pura terjatuh tapi kemudian kakinya terpeleset. Kepalanya langsung membentur lantai. Benturan itu tidak dihiraukan oleh Elia karena sakit yang ia rasakan tidaklah parah. Elia tidak menyadari bahwa sebenarnya malapetaka sedang menanti. Kejadian itu pun tidak dilaporkannya kepada orang tuanya. Setelah kejadian itu, Elia masih sempat bermain basket dengan temannya.

Keseimbangan Tubuh Elia Mulai Terganggu

Keesokan harinya, Elia kembali bermain basket. "Saya tidak tahu bahwa sebenarnya Elia sedang tidak enak badan. Tapi memang lemparan bola dia out terus. Sewaktu Elia sedang berjalan mengambil bola, dia terjatuh. Tapi Elia tetap melanjutkan permainan. Kemudian saya melihat badan Elia muter dan ia langsung jatuh. Saya pikir tadinya bercanda, tapi ternyata tidak..." cerita William, teman bermain Elia.

Elia pun pingsan. William langsung berteriak minta tolong. Kemudian Elia dibawa ke rumah temannya. Tidak berapa lama kemudian Elia mulai sadar kembali. Selama Elia tidak sadar, bicaranya sudah mulai ngaco. Elia juga sempat muntah di kamar mandi, tapi tanpa disadarinya ia muntah di bak mandi bukannya di lantai. Jalannya pun sudah miring. Teman-teman Elia kemudian mengantarkannya pulang ke rumah seperti tidak terjadi apa-apa.

Pada hari Minggu, Elia tidur cukup lama dari jam 12 siang sampai jam 7 malam. Awalnya orang tua Elia mengira itu karena pengaruh obat tidur karena sebelumnya Elia memang minum obat. Pada saat itu Maxi sedang asyik membaca koran di kamar sedangkan Chenni sudah tertidur. Tiba-tiba terdengar suara hentakan yang keras, "bukkkk". Maxi langsung berteriak dan membangunkan Chenni. Mereka berdua langsung melihat keluar.

"Saya lihat Elia sudah jatuh terduduk di lantai, kepalanya di kursi. Keluar darah sedikit dari mulutnya bercampur busa. Saya melihatnya kejang seperti orang yang kedinginan, badannya gemetar. Saya bilang kenapa begini...." ujar Maxi.

Kepanikan langsung tergambar di wajah Maxi dan Chenni. Mereka langsung membopong Elia ke kamar. Mulut Elia kaku, ia tidak dapat berbicara. Matanya melihat ke atas, tangannya terus bergoyang. Kedua orang tua Elia tidak tahu penyakit apa yang telah menimpa Elia. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Elia.

Maxi langsung mendoakan Elia, meminta pertolongan dari Tuhan. Elia sadar sepuluh menit tapi kemudian setengah jam berikutnya dia tidak sadarkan diri. Frekuensinya terus seperti itu sampai pagi. Dengan setia Maxi dan Chenni menemani Elia. Melihat kondisinya yang tidak membaik dan semakin kritis, pukul empat sore Elia dilarikan ke rumah sakit.

Penanganan Di Rumah Sakit

"Sampai di rumah sakit, Elia terus berteriak. Saya berseru di dalam hati, Tuhan tolong, dalam nama Tuhan Yesus, tidak ada yang mustahil," Chenni berkisah.

Awalnya dokter mendiagnosanya sebagai epilepsi tapi Maxi berkeras karena tidak ada keturunan epilepsi di keluarga mereka. Puji Tuhan, sebelum diberikan obat epilepsi, dokter akhirnya menyarankan supaya Elia di CT-Scan terlebih dahulu. Dari hasil pemeriksaan itulah diketahui telah terjadi pendarahan di kepala Elia, dari mata sampai belakang telinga.

Dokter mencoba mencari tahu penyebab pendarahan di otak Elia. Maxi dan Chenni yang tidak mengetahui peristiwa yang dialami Elia beberapa hari sebelumnya tidak dapat memberikan informasi apapun, apakah Elia pernah jatuh, ditabrak, berkelahi dengan temannya dan lain-lain.

Dokter pun menjelaskan bahwa kondisi yang dialami oleh Elia cukup parah. Elia harus segera dioperasi, kalau terlalu lama otaknya bisa tertekan dan Elia akan lumpuh total. Kalau sudah demikian halnya, Elia dipastikan akan cacat seumur hidupnya.

"Melihat keadaan pasien, dengan hasil CT-scan yang seperti ini, dimana pendarahan cukup besar dan pembengkakannya pun cukup besar, kalau didiamkan saja, luka itu akan semakin meluas. Akibatnya bisa fatal. Pasien bisa jatuh koma dan akhirnya meninggal," komentar Dr. Pudji Sugianto, Sp. S, dokter yang menangani Elia.

Antara Makan Buah Simalakama

Elia sendiri dari kecil memiliki kelainan darah. Dia memiliki pembeku darah yang lambat sehingga Elia harus segera diberi obat plasma darah. Karena kalau tidak segera diantisipasi, Elia akan terus mengeluarkan darah sedangkan Elia sendiri membutuhkan darah. Dokter mengharuskan Elia memakai obat plasma darah yang harganya 12 juta untuk sekali pakai, dan obat itu harus diberikan sebanyak lima kali.

Uang untuk CT-Scan juga mahal, sedangkan kalau dioperasi pasti tidak bisa berharap Elia bisa normal lagi. Kalaupun sembuh dan pada akhirnya pasien mendekati idiot itu sebenarnya kondisi yang diperkirakan cukup bagus untuk kasus semacam Elia. Saat itu dokter spesialis bedah, semua dokter anestesi, hematologi dan semua orang yang berkepentingan dalam penanganan kasus Elia berkumpul dan menyarankan untuk segera dilakukan tindakan operasi. Maxi dan Chenni bingung memikirkan biaya yang harus mereka keluarkan untuk pengobatan Elia.

"Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Elia hanya dengan operasi. Biaya yang diperlukan untuk operasi itu cukup besar. Sedangkan para dokter sendiri sudah mengatakan kalau malam ini tidak dioperasi, besok mereka sudah angkat tangan. Dari hasil CT-can, Elia sudah kritis, pendarahannya sudah sampai di otak, dan itu pun kata dokter, operasi pertama di sini, operasi kedua harus ke Singapur," Chenny bersaksi menceritakan kondisi yang mereka alami saat itu.

Para dokter meminta Maxi dan Chenni untuk segera mengambil keputusan karena hasil CT-Scan menunjukkan darah sudah menekan ke otak.

"Dokter hanya memberikan waktu dua jam untuk saya mengambil keputusan, dari jam tujuh sampai jam sembilan malam. Kalau tidak operasi, menurut diagnosa dokter, besok bisa lumpuh total atau bahkan koma total. Saya bersama istri berembuk untuk menghubungi semua hamba Tuhan yang kita kenal untuk membantu mendoakan Elia. Karena saya tahu semakin banyak yang berdoa semakin bagus," ujar Maxi menambahkan kesaksiannya.

Taat Dan Melangkah Dengan Iman

Seorang hamba Tuhan yang datang dari Menado mengatakan Elia tidak usah dioperasi. Mertua Maxi-pun mengkonfirmasikan hal yang sama supaya Elia jangan dioperasi. Karena banyak dukungan dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, Maxi dan Chenni hanya bersandar dengan iman kepada Tuhan saja.

Konfirmasi dan dukungan yang mereka terima meyakinkan Maxi dan Chenni untuk membatalkan operasi yang disarankan para dokter. Keputusan ini pun membuat mereka harus menanda-tangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa rumah sakit tidak bertanggung-jawab akan kondisi Elia lagi.

Mukjizat Terjadi

Tiga hari kemudian Chenni merayakan ulang tahunnya di rumah sakit karena ia harus menemani Elia. "Saya mengatakan kepada Elia, hari ini mama ulang tahun. Kalau Elia dengar, coba Elia pegang kencang-kencang tangan mama," ujar Chenni.

Sekonyong-konyong tangan Elia mulai menggenggam tangan Chenni. Baik Chenni maupun Maxi begitu bersukacita karena hal itu menandakan Elia sudah mulai sadar. Kemudian dari sudut mata Elia yang masih setengah tertutup, keluar air mata.

Elia berada di ICU selama 14 hari dan semakin hari perkembangannya semakin baik dan penuh kemajuan. Selama di ruang perawatan, Elia sempat bertanya kapan dia bisa berjalan lagi, tapi dokter mengatakan kalau hal itu hanya dapat Elia mimpikan. Suatu hal yang mustahil untuk Elia dapat berjalan kembali. Tapi Maxi dan Chenni terus berdoa dan pada akhirnya Maxi bermimpi kalau Elia dapat berjalan lagi dan mimpi itu digenapi oleh Tuhan. Dalam beberapa hari Elia bisa berjalan kembali dan memang Tuhan sungguh-sungguh menyatakan mujizat-Nya.

"Suatu bukti kalau Allah itu luar biasa. Kalau kita percaya sungguh-sungguh sama Tuhan, Tuhan tidak pernah mengecewakan kita. Kalau kita ada masalah, jangan lari kepada manusia. Kita pakai lutut, kita berdoa. Kalau Tuhan jawab, pasti itu akan terjadi. Tuhan sanggup...," ujar Maxi dengan sukacita menyaksikan kebesaran Tuhan dalam hidup Elia.

Tidak hanya sampai di situ. Biaya cukup besar yang harus ditanggung Maxi dan Chenni secara ajaib Tuhan bukakan jalan. Mereka mendapatkan keringanan dari rumah sakit dan dapat menyelesaikan pembayarannya dengan cara mencicil. Tuhan selalu punya jalan keluar dan pertolongannya tidak pernah terlambat.

Kesembuhan Sempurna Dari Tuhan

Elia berada di ruang perawatan selama 17 hari dan tidak seperti pasien yang lain, Elia mengalami perkembangan kesehatan yang luar biasa. Benar-benar tidak ada keluhan sedikitpun.

Dari hasil pemeriksaan CT-Scan berikutnya, dokter menemukan perkembangan yang luar biasa dari otak Elia. Memang masih terlihat ada garis yang bengkok, tapi dokter sendiri heran karena kondisi Elia sepertinya fit dan tidak ada rasa sakit sedikitpun. Elia seperti orang yang benar-benar sehat.

"Setelah aku berpikir dari apa yang aku alami, aku yakin kalau Tuhan itu memang benar ada. Karena aku bisa sembuh itu bukan karena dokter. Aku percaya hanya Tuhan yang bisa membuat pendarahan di otakku hilang, apalagi tanpa perlu operasi pembersihan di otakku. Jadi aku percaya kalau Tuhan itu ada. Karena hanya DIA yang bisa menyembuhkanku. Tuhan Yesus itu memang dahsyat," Elia menutup kesaksian hidupnya dengan penuh ucapan syukur.


( Sumber Kesaksian : Elia Sigar )

Jumat, 25 Desember 2009

MUJIZAT NYANYIAN SEORANG KAKAK

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee , USA . Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik.

Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu. Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!
Mami, ... aku mau nyanyi buat adik kecil! Ibunya kurang tanggap.
Mami, ... aku pengen nyanyi! Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.
Mami, ... aku kepengen nyanyi! Ini berulang kali diminta
Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil.
Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.
Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya
masih hidup! Ia d ice gat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau tahu; ini peraturan!
Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi!
Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya! Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi tidak boleh lebih dari lima menit!.
Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul
maut. Michael menatap lekat adiknya ... lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring
"... You are my sunshine, my only sunshine,
you make me happy when skies are grey ..." Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.
You never know, dear, How much I love you. Please don't take my sunshine away. Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya
dengan tajam dan terus, ... terus Michael! teruskan sayang! ... bisik ibunya ... The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands
... dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur ... I'll always love you and make you happy, if you will
only stay the same ... Sang adik kelihatan begitu tenang ... sangat tenang.
Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan ... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai ... lalu tertidur
lelap.
Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja
ia saksikan sendiri.
Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu
ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh
amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut
kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you".
Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil "Michael" untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil
bagiNYA bila IA menghendaki terjadi.
Note:
Kadang hal-hal yang menentukan, dalam diri orang lain ...
Datang dari seseorang yang kita anggap lemah ...
Hadir dari seseorang yang kita tidak pernah perhitungkan ...
Peace & Love
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tuhan bisa memakai siapa saja utk kesembuhan kita, saat ini apabila saudara ada dalam kesusahan karena sakit penyakit...
Percaya dengan iman, Tuhan sanggup menyembuhkan saudara.

Tuhan Yesus memberkati.

Penyakit Aneh Bersarang Dalam Tubuhnya

Penyakit aneh yang diderita Jimmy muncul setiap jam 12 malam. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Perutnya seperti ditarik dan badannya terasa sangat lemas. ia juga sampai muntah-muntah karena penyakit itu. Hal itu menyiksa Jimmy. Jimmy tak pernah tidur lelap. Malam adalah waktu penyiksaan untuknya.

Ternyata bukan hanya sakit perut yang dideritanya. Ia juga mengalami hal aneh terjadi. Ia merasa dikamarnya penuh dengan orang yang tidak jelas bentuknya dan mengolok-olok dirinya. Mereka mengutuki Jimmy dan mengatakan bahwa ia tidak akan sembuh dan tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Saat itu ia merasa ingin pecah kepalanya dan badannya sangat panas. Ia pun pergi ke kamar mandi dan menyiram seluruh badannya dengan air supaya badannya tidak panas.

Pada saat itu Jimmy tertidur di kamar mandi. Untungnya ayahnya menemukan Jimmy dan membawa ke kamarnya. Orangtuanya sangat merasa kasihan karena penyakit anaknya yang tidak jelas itu. Penyakit ini bermula saat ia berusia 7 tahun. Pada jam 12 malam Jimmy merasakan sakit yang luar biasa.

Dokter pun tidak tahu penyakit yang di derita oleh jimmy. Obat-obatan tidak mampu meredakan penyakit Jimmy. Sakitnya melebihi semua itu. Segala cara sudah diberikan oleh dokter namun penyakitnya tidak pernah pergi dari tubuh Jimmy.

Pada usianya yang ke 13 tahun, keadaaanya semakin parah. Ia sering sekali masuk rumah sakit. Kurang lebih 20 kali masuk rumah sakit. Orangtua Jimmy mengambil jalan pintas. Mereka pergi ke dukun dan orang pintar untuk mengobati Jimmy. Jimmy juga disarankan untuk mengganti namanya. Namun semua itu tidak juga menyembuhkan penyakitnya.

Keceriaan telah hilang dalam hidup Jimmy. Ia selalu memukul perutnya dan menyalahkan diri sendiri. Ibunya selalu menyemangati dirinya bahwa ia pasti sembuh. Ia sudah berdoa namun penyakitnya tak kunjung sembuh Pada usia 17 tahun, Jimmy sudah tidak kuat lagi. Ia berusaha untuk bunuh diri, tetapi ibunya memergokinya dan menghalanginya.

Usaha mereka tidak cukup sampai disana. Atas saran dari saudaranya, akhirnya Jimmy dibawa ke sebuah rumah pemulihan. Disana Jimmy dibimbing oleh seorang mentor untuk dapat memiliki harapan lagi untuk sembuh yang selama ini tenggelam dalam deraan penderitaanya.

Jimmy pun berdoa dan berpuasa untuk penyakitnya ini. Ia berkata pada Tuhan, bila memang Tuhan ada maka Tuhan pasti akan menyembuhkannya. Setelah itu ia mengalami hal yang luar biasa. Ia didoakan dan ia memberontak dan muntah-muntah pada saat itu. Setelah itu ia merasakan damai yang luar biasa. Ia merasa dengan iman bahwa ia sudah sembuh.

Akhirnya ia menguji bahwa ia sudah sembuh. jam 12 malam ia lewati dengan kesembuhan dan sukacita. Tidak ada lagi rasa sakit seperti 17 tahun yang penuh penderitaan itu. Orang dunia, bahkan medis tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Hanya Tuhan Yesus yang mampu menyembuhkannya.

Apapun sakit penyakit saudara saat ini..percayalah dengan iman, Tuhan Yesus sanggup dan akan menyembuhkan saudara. Amien

Tuhan Yesus memberkati.


(Sumber Kesaksian : Jimmy Hendy)

Rabu, 23 Desember 2009

Kasih Ibu

Apakah Anda mengasihi Ibu Anda? Apakah Anda masih ingat betapa besar kasih sayangnya Ibu Anda? Dan bacalah artikel ini yg saya persembahkan untuk mba Jusniar yg juga sangat mengasihi Ibunya.

Kasih seorang Ibu. Jalannya sudah ter-titih2, karena usianya sudah lebih dari 70 th, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal dirumah jompo, karena kehadirannya tidak di-inginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tsb. Ayah dari anak tsb minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Disamping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yg belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yg hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahakannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya. Selain aib yg harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yg mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yg ia dapatkan hanya cemohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapa.

Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yg didapatkannya dari Tuhan dimana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yg ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love - Kasih.

Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan diwaktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yg ia bisa dapatkan. Terkadang ia harus menjahit s/d jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yg tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yg tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, disamping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.

Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yg seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yg tercinta, hanya yg terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian s/d makanan.

Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca diluaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yg telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja. Sejak saat tsb ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yg terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yg tercinta.

Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Disana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yg bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak di undang, bahkan kehadirannya tidaklah di inginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yg tercinta. Sejak saat itu ber-tahun2 ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu.

Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dgn anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dgn menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya. Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Dirumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai babu dari keluarga tsb. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan. Dirumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinyada daripada dirinya sendiri. Disamping itu sering sekali di bentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yg kecil dibelakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.

Setelah bekerja ber-tahun2 sebagai babu tanpa ada orang yg mengetahui siapa dirinya dirumah tsb, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yg setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo. Puluhan th ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dgn putri kesayangannya. Uang pension yg ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dgn pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya. Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yg ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Disamping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yg ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya. Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat dibawah nol dan salujupun turun dgn lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena diluaran sangat dingin, tetapi Nene tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi kerumah putrinya. Ia ingin betemu dgn putrinya sekali lagi yg terakhir kali. Dgn tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus ber-jam2 diluaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat dimana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yg jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yg berada dlm keadaan sakit.

Setiba dirumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yg membukakan pintu rumah gedong dimana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yg diucapkan putrinya? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dgn ibunya? Tidak! Bahkan ia di tegor: "Kamu sudah bekerja dirumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu dibelakang rumah!" "Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yg terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena diluaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!" kata wanita tua itu. "Maaf saya tidak ada waktu, disamping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" ucapan putrinya dgn nada kesal. Setelah itu pintu di tutup dgn keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih belas kasihanpun tidak ada.

Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon dirumah putrinya "Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon kekantor polisi, sebab dihalte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!" Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yg tercinta yg tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.

Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan2? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dgn ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita? Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.

SELAMAT HARI IBU.

Minggu, 20 Desember 2009

Dosa Siapakah ???

Yohanes 9:2
"Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?""



Suatu kali ada seorang pria datang berkonsultasi ke sebuah klinik dokter terkenal di wilayahnya. Kedatangannya pada saat itu bukanlah untuk yang pertama kalinya, tetapi sudah yang ke sepuluh kalinya. Dalam keadaan yang cukup memprihatinkan, pria itu pun berkeluh kesah atas apa yang dialami olehnya selama ini. Dari bibirnya pun keluar kalimat seperti ini, "Dosa siapakah yang membuat saya seperti ini, keluarga saya atau hanya saya?" Sebuah pertanyaan yang menggambarkan keputusasaan.

Sang dokter yang mendengarkan keluhan pasiennya itu tetap diam seribu bahasa. Sesekali, terlihat tangannya mencatat sesuatu yang keluar dari mulut pasiennya itu. Sepertinya, dokter ini sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara kepada orang yang berkonsultasi kepadanya itu. Dan waktu yang dinanti tersebut pun akhirnya datang juga. Tidak banyak kalimat yang keluar dari mulut sang dokter, hanya jawaban ini yang dia katakan kepada pasiennya, "Sakit yang Anda alami saat ini bukanlah karena dosa siapa-siapa, tetapi karena ada rencana Tuhan yang indah yang ingin Dia nyatakan dalam hidup Anda."

Seringkali kita sebagai manusia mempersalahkan sesuatu yang sebenarnya belum tentu itulah penyebabnya. Kesalahan kita atau orang-orang terdekat kita di waktu dulu seringkali kita pakai sendiri untuk menyalahkan keadaan yang terjadi. Penyakit yang tidak kunjung sembuh, keluarga yang belum dipulihkan, usaha yang belum memperlihatkan kemajuan, semua itu kita anggap sebagai akibat dari dosa.

Dalam Yohanes 9:3, kita dapat menemukan jawaban dari Yesus atas peristiwa demi peristiwa yang tidak mengenakkan yang terjadi di dalam kehidupan kita. Ditulis disana bahwa suatu kejadian atau kenyataan yang terjadi bukanlah karena hanya dosa, tetapi karena ada pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan.

Allah kita adalah adalah Allah yang unik dan memiliki banyak cara untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Kondisi apakah yang saat ini sedang Anda alami? Percayalah bahwa ada tangan-Nya dan rencana-Nya yang sedang bekerja disana. Marilah menjadi saksi-saksi hidup Allah di dunia yang menyatakan kebesaran-Nya melalui apa yang sedang Anda hadapi dan lihatlah bahwa ada banyak orang yang saat ini diberkati melalui apa yang sedang Anda tunjukkan kepada mereka.

Allah selalu bekerja dengan cara yang ajaib dan tak terpahami oleh manusia.

Tuhan Yesus memberkati

( Sumber: Untaian Kata-kata Bijak: Yayasan Komunikasi Bersama )

Push Up

Ada seorang profesor mata kuliah Religi yang bernama Dr. Christianson yang mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika Serikat. Dr. Christianson mengajar kekristenan di perguruan tinggi ini dan setiap siswa semester pertama diwajibkan untuk mengikuti kelas ini. Sekalipun Dr. Christianson berusaha keras menyampaikan intisari Injil kepada kelasnya, ia menemukan bahwa kebanyakan siswanya memandang materi yang diajarnya sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Meskipun ia sudah berusaha sebaik mungkin, kebanyakan siswa menolak untuk menanggapi kekristenan secara serius. Tahun ini, Dr. Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial yang bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya ke seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang populer, ia disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima dan ia merupakan siswa terbaik di kelas profesor itu.

Suatu hari, Dr Christianson meminta Steve untuk tidak langsung pulang setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. "Berapa push up yang bisa kamu lakukan?" Steve menjawab, "Saya melakukan sekitar 200 setiap malam." "200? Lumayan itu, Steve," Dr. Christianson melanjutkan. "Apakah kamu dapat melakukan 300?" Steve menjawab, "Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melakukan 300 sekaligus." "Apakah kamu pikir kamu dapat melakukannya?" tanya Dr. Christianson. "Ok, saya bisa coba," jawab Steve.
"Saya mempunyai satu proyek di kelas dan saya memerlukan kamu untuk melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya 300. Dapatkah kamu melakukannya?" tanya sang profesor. Steve menjawab, "Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya." Dr. Christianson berkata, "Bagus sekali! Saya memerlukan Anda untuk melakukannya Jumat ini." Dr. Christianson menjelaskan kepada Steve apa yang ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu.

Pada hari Jumat, Steve datang awal ke kelas dan duduk di bagian depan kelas. Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak besar donut. Bukan donut yang biasa tetapi yang besar dan yang punya krim di tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu merupakan kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan mereka setelah pesta di kelas Dr. Christianson.
Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, "Cynthia, apakah kamu mau salah satu dari donut ini?" Cynthia menjawab, "Ya". Dr. Christianson lalu berpaling kepada Steve, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Cynthia bisa mendapatkan donut ini?" "Tentu saja!" Steve lalu melompat ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali ke tempat duduknya. Dr. Christianson meletakkan satu donut di meja Cynthia.
Dr. Christianson lalu pergi ke siswa berikutnya, dan bertanya, "Joe, apakah kamu mau satu donut?" Joe berkata, "Ya." Dr. Christianson bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa mendapatkan donutnya?"

Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donutnya. Begitulah selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donut mereka. Di baris yang kedua, Dr. Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket, dan fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat populer dan punya banyak teman wanita. Saat profesor bertanya, "Scott, apakah kamu mau donut?" Jawaban Scott adalah, "Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya sendiri?" Dr. Christianson berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya." Lalu Scott berkata, "Kalau begitu, saya tidak mau donutnya." Dr. Christianson mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donut yang tidak ia kehendaki?" Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10 push up. Scott berteriak, "Hei! Saya sudah berkata, saya tidak menginginkannya!" Dr. Christianson berkata, "Lihat di sini! Ini kelas saya dan semuanya ini donut saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya." Ia lalu menempatkan satu donut di atas meja Scott.

Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan. Ia hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke tempat duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris ketiga. Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr. Christianson bertanya kepada Jenny, "Jenny, apakah kamu menginginkan donut ini?" Dengan tegas Jenny menjawab, "Tidak." Lalu Dr. Christianson bertanya pada Steve, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?"
Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donut. Ruang sudah mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah mulai berkata, "Tidak!" dan semua donut dibiarkan di atas meja tanpa ada yang memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk tetap terus melakukan push up untuk setiap donut itu. Lantai tempat ia melakukan push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan. Dr. Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling lantang suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk memastikan bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap donut karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push up-nya.

Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan beberapa siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan mereka duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34 siswa sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya. Dr. Christianson melanjutkan dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya sampai ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada Dr. Christianson, "Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap push up yang saya lakukan?" Dr. Christianson berpikir sejenak dan berkata, "Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau." Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa yang selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Jason, seorang siswa dari kelas lain dengan santai mau masuk ke kelas, dan sebelum ia melangkahi masuk, seluruh kelas berteriak serentak, "Jangan! Jangan masuk! Kamu berdiri di luar saja!" Jason kaget karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Steve mengangkat kepalanya dan berkata, "Tidak, biarkan dia masuk."
Profesor Christianson berkata, "Kamu sadar bahwa jika Jason masuk, kamu harus melakukan 10 push up untuk dia?"
Steve berkata, "Ya, biarkan dia masuk. Berikan donut kepadanya." Dr. Christianson berkata, "Ok, Steve. Jason, kamu mau donut?" Jason yang baru masuk ke kelas dan tidak tahu apa-apa menjawab, "Ya, tentu saja, berikan saya donut." Steve melakukan 10 push up dengan sangat perlahan dan bersusah payah. Jason yang kebingungan diberikan satu donut. Dr. Christianson sudah selesai dengan baris ke-empat dan mulai ke tempat siswa-siswa dari kelas lain yang duduk di tangga.

Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk mengangkat dirinya melawan tarikan gravitasi. Di waktu ini, keringatnya bercucuran, dan tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata setiap orang di kelas itu mulai basah,ruangan itu terdengar penuh isak tangis. Dua siswa terakhir adalah dua siswa perempuan yang sangat populer, Linda dan Susan.
Dr. Christianson pergi ke Linda, "Linda, apakah kamu mau donut?" Linda dengan sedih berkata, "Tidak, terima kasih." Profesor Christianson dengan perlahan bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?" Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan push-up untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa yang terakhir, Susan. "Susan, kamu mau donut ini?" Susan dengan air mata yang berlinangan di pipinya mulai menangis. "Dr. Christianson, mengapa saya tidak boleh membantunya?"
Dr. Christianson tertunduk sejenak,dengan hati perih dan mata yang berkaca-kaca ia berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya sendiri, saya telah memberinya tugas itu dan ia bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapat donut itu,apakah mereka menginginkannya atau tidak. Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap orang telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau memberikan saya tugas yang di bawah standar, ia telah memberikan menawarkan diri untuk kemajuan teman2nya. Steve memberitahu saya di latihan football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up. Saya memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang ke pesta saya kecuali jika Steve mau membayar harga dengan melakukan push up bagi kalian. Akhirnya Steve menyetujui dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua."

"Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa mendapatkan donut?" Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang terakhirnya. Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara total, Steve telah melakukan 350 push up, tangannya tidak tahan lagi dan ia jatuh tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan berkata, "Dan, demikianlah, Juruselamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib, ia telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya. Dan seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah." Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi, walaupun sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia. Para murid berjalan unutk menghampiri Steve, dan mereka kini tahu apa arti pengorbanan itu dan pengorbanan Yesus di kayu salib.

KELERENG BERMATA MERAH

Idaho. Kisah ini terjadi bertahun-tahun lampau di sebuah kota kecil di negara bagian Idaho, AS. Seorang ibu yang hendak berbelanja di sebuah toko bahan makanan (grocery) terdekat memperhatikan seorang anak laki-laki yang tampaknya sudah menjadi pelanggan toko itu, tapi dia bukan seorang pembeli yang lazim. Perawakannya kurus, di bajunya terdapat beberapa tambalan meski tampak bersih. Umurnya kira-kira 10 atau 11 tahun. Ketika sedang memilih kentang dia sempat menguping pembicaraan anak ini dengan Jim Miller, pemilik toko.
"Halo Barry, apa kabar hari ini?"
"Halo, pak Miller. Saya baik-baik saja, terimakasih. Saya suka dengan kacang polong yang segar ini, kelihatannya bagus-bagus," ujar Barry.
"Iya, memang itu baru datang. Bagaimana keadaan ibumu?"
"Baik, pak. Sudah semakin sehat sekarang."
"Baguslah. Sekarang, apa yang dapat saya bantu?" tanya pak Miller lagi.
"Tidak, pak. Saya cuma senang saja melihat sayur kacang polong yang hijau segar ini."
"Kamu mau bawa pulang ke rumah?"
"Tidak, pak. Saya tidak punya uang untuk membelinya."
"Well, apa yang kamu punya untuk dibarter dengan kacang polong itu?"
"Saya hanya punya kelereng."
"Coba saya lihat kelerengnya."
Barry mengeluarkan kelerengnya dari dalam saku bajunya. "Ini bagus, mengkilap."
"Benar, kelerengnya bagus. Sayang warna matanya biru, padahal saya suka yang berwarna merah," tukas pak Miller. "Apa di rumah kamu ada kelereng bermata merah yang bagus seperti ini?"
"Tidak terlalu merah, tapi agak merah."
"Begini saja, kamu boleh ambil seberapa banyak kacang polong yang kamu inginkan, nanti lain kali kamu datang membawa kelereng yang warna matanya merah."
"Tentu saja. Terimakasih, pak."
Pada saat itu ibu Miller keluar hendak melayani penulis kisah ini. Dengan wajah tersenyum ibu Miller berkata, "Ada dua anak lagi seperti dia yang tinggal di daerah ini. Mereka adalah anak-anak dari keluarga-keluarga yang sangat miskin. Jim suka memberi mereka bauh pir, apel, tomat, atau sayuran apa saja yang ditukar dengan kelereng."

"Nanti, waktu mereka datang membawa kelereng bermata merah, Jim akan mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak terlalu berminat dengan warna merah, tapi warna hijau. Tapi dia selalu akan memberikan bahan makanan yang mereka inginkan, dengan janji akan ditukar dengan kelereng bermata hijau. Tapi nanti, kalau mereka datang membawa kelereng berwarna hijau, Jim akan mengatakan bahwa dia sudah berubah pikiran, sekarang yang dia inginkan adalah warna oranye. Tapi anak-anak itu tidak pernah pulang dengan tangan hampa, selalu Jim akan memberikan apa yang mereka perlukan. Selalu begitu."

Beberapa waktu kemudian penulis kisah ini pindah ke negara bagian Colorado. Namun, pengalaman ini tidak pernah terlupakan. Dia selalu membayangkan bagaimana ketiga anak pra-remaja itu yang selalu berbelanja ke toko Jim dengan berbarter kelereng.
Tahun berlalu dan semua berubah dengan cepat. Belum lama berselang penulis kisah ini berkunjung kembali ke Idaho untuk menemui sanak famili di kota kecil di mana dia bermukim dulu. Setiba di sana dia mendengar kabar bahwa Jim Miller, pemilik toko bahan pangan, baru meninggal dunia dalam usia cukup lanjut. Mereka datang melayat pada acara memorial service petang hari besoknya.

Banyak pelayat yang hadir, umumnya adalah warga sekitar. Tetapi ada pelayat yang penampilannya agak berbeda di antara para pelayat, yaitu tiga pemuda yang berseragam kadet akademi militer. Dua dari mereka berseragam warna pekat, sedangkan yang seorang berseragam warna putih bersih, lengkap dengan topi kebesaran masing-masing. Saat para pelayat berbaris hendak menyalami ibu Miller yang duduk tak jauh dari peti jenazah, ketiga pemuda tegap ini berada di deretan depan.

Ketika berhadapan dengan ibu Miller, masing-masing pemuda itu membuka topi mereka, menyembulkan rambut yang dipangkas model cepak. Satu-persatu ketiga membungkuk, memeluk ibu Miller, mencium pipinya, berbicara sejenak, kemudian beranjak ke peti jenazah. Langkah mereka diikuti dengan ekor mata ibu Miller. Ketiga pemuda itu berbaris di depan peti jenazah dan satu-persatu membungkuk lalu menggenggam tangan pak Miller yang telah dingin dan kaku. Setelah itu merekapun mengenakan kembali topi mereka dan serempak memberi hormat secara militer. Para pelayat seakan menunggu sejenak untuk memberi kesempatan kepada ketiga pemuda itu melakukan ritual yang langka tersebut. Semua yang hadir memperhatikan ketiganya saat mereka keluar ruangan sambil menyeka mata mereka dengan saputangan.

Setelah berhadapan dengan ibu Miller, penulis memperkenalkan diri. Maklum, sudah bertahun-tahun berpisah. Setelah mengetahui siapa tamunya, ibu Miller langsung berdiri dan menggengam tangan penulis lalu menuntun ke peti jenazah.

"Ketiga pemuda tadi adalah anak-anak yang pernah saya ceritakan kepada anda dulu. Mereka tadi mengatakan kepada saya betapa mereka tidak akan bisa melupakan apa yang dilakukan Jim kepada mereka ketika mereka masih kanak-kanak dulu," tutur ibu Miller. "Sekarang, ketika Jim tidak bisa lagi berubah pikiran soal warna kelereng itu, mereka datang untuk membayar hutang mereka itu."

Lalu, dengan mata berkaca-kaca ibu Miller mengangkat jemari suaminya yang dingin dan kaku. Di baliknya terdapat tiga kelereng bermata merah yang bening dan mengkilap!

(Sumber: Istimewa)

(Artikel ini di kirim oleh : Ibu Lisa Fransisca )